Baka. Tentu saja itu adalah sebuah kesalahan. Kau mendengar ada penyihir yang bisa mengabulkan semua permintaanmu dari kabar burung yang terbawa angin dari hutan? Aku nyaris tertawa terpingkal-pingkal kau dengan mudahnya percaya hal magis semacam itu. Tak ada yang namanya penyihir. Kuberitahu kau sekali lagi: tak ada yang namanya penyihir. Mengapa kau menganggapnya penyihir hanya karena dia bisa mengabulkan semua permintaanmu? Mengapa kau bisa berpikir dia adalah penyihir hanya karena dia memberimu bubuk putih yang mirip tepung terigu? Mengapa kau bisa berpikir dia adalah penyihir hanya karena dia bisa menyulapmu menjadi cantik yang tanpa kau sadari kalau kau sendiri sudah cantik?
Baka da na. Jangan terlalu jauh berjalan dari rumah. Kau tahu itu berbahaya. Kau bisa tersesat. Cepat kembali sebelum gelap. Seseorang sedang menunggumu dengan cokelat panas yang sudah tertata dengan rapi di meja lengkap dengan kudapan biskuitnya. Dia sedang duduk dengan jari-jari tergenggam kuat di gelas berisi cokelatnya. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat—khawatir. Menunggumu, tentu saja.
Aho ya na. Aku sudah memberitahumu, bukan? Di hutan banyak sekali serigala berselimut domba. Kau harus berhati-hati. Jangan pernah berjalan sendirian apabila kamu tidak membawa kompas. Sebalnya, yang kutemui sekarang adalah betapa cerobohnya kau ketika rasa penasaran mengalahkan akal sehatmu. Kau terlalu tergesa-gesa pergi hingga meninggalkan kompas dan mantel musim dinginmu.
Tapi sejak awal, kau sudah menyadarinya, kan? Itu memang sebuah kesalahan.
****
20 April 2016 9:54 PM
Comments
Post a Comment