Skip to main content

TIPS MEMBACA BANYAK BUKU VERSIKU

Sumber: Book Aesthetic Wallpapers

Belakangan ini aku sering membaca. Aku membaca banyak buku sejak Januari dan hingga saat ini rupanya aku sudah membaca sebanyak 33 buku. Walau kebanyakan masih didominasi oleh fiksi dan hanya 3 buku yang masuk kategori non fiksi dengan genre self improvement, ini merupakan sebuah pencapaian bagiku yang masih berjuang untuk membaca lebih banyak buku non fiksi. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mengatur strategi yang kususun untuk mencapai target membaca banyak buku.  

Mulanya aku memberanikan diri menulis target baca sebanyak 30 buku selama tahun 2021 di Goodreads. Aku tidak pernah punya keberanian ini sebelumnya karena aku takut tidak bisa mencapai target tersebut dan berujung kekecewaan. Kelihatannya sepele, tapi bagiku, jika aku sudah mantap memiliki target, maka sebisa mungkin aku akan berusaha mencapai target itu. 

Setelah memastikan target membaca 30 buku akan segera tercapai, pikiran untuk menaikkan target membaca sempat terbesit. Aku melihat postingan seorang Booktuber dan melihatnya memasang target 80 buku untuk tahun 2021 memunculkan ide gila di pikiranku. Bagaimana kalau aku menaikkan targetku sedrastis itu? Apakah aku akan sanggup? Sesungguhnya, aku agak keder juga dengan ide gila ini. Tapi aku penasaran seberapa jauh aku bisa melangkah, jadi aku ingin mencoba menaikkan target membacaku.

Untuk bisa mencapai target tersebut, tentu saja kita tidak bisa membaca seenaknya tanpa perencanaan yang matang. Di balik target, harus ada strategi atau langkah-langkah jitu yang harus bisa diterapkan. Berikut tips membaca banyak buku versiku yang kuterapkan sejak Januari 2021 hingga tulisan ini terbit:

1. Pecah Target Membaca Menjadi Lebih Kecil

Jika kamu sudah memiliki target dalam ukuran besar, seperti target membaca sebanyak 30 buku atau bahkan 60 buku dalam setahun, pecah lagi menjadi target membaca bulanan, mingguan, dan mungkin juga harian. Aku sendiri menerapkan setidaknya 5-8 buku dalam sebulan. Tidak ada target mingguan untukku. Hanya saja aku menerapkan minimal halaman yang kubaca setiap harinya minimal 50-100 halaman. 

2. Jauhi Ponsel dan Sosmed

Sejak aku memiliki e-reader, aku akui distraksi yang sering menghampiriku mulai berkurang. Ketika aku membaca, maka aku akan fokus membaca hingga berjam-jam tanpa ada keinginan membuka sosmed. Tak jarang aku juga menyalakan mode do not disturb di ponsel untuk mengurangi distraksi selama membaca. Sebelum aku punya e-reader, distraksi datang tak henti-hentinya. Selalu ada keinginan untuk mengecek sosmed karena FOMO. Tapi semenjak ada e-reader, aku mulai mengecup selamat tinggal pada FOMO.

3. Membaca di Mana pun dan Kapan pun

Aku sering menerapkan ini semenjak mood membaca aku tumbuh dengan brutal. Jika ada waktu senggang, aku akan lebih memilih membaca daripada menonton Netflix atau main sosmed. Apalagi sejak ada e-reader--salah satu keputusan terbaikku di tahun ini. Benar-benar pilihan yang tepat. 

4. Fokus pada Genre Tertentu yang Disukai

Untuk langkah awal, kamu bisa fokus pada genre buku yang menarik minat. Dengan ini, ketertarikanmu pada buku-buku tersebut akan muncul dan membimbingmu menyelesaikan buku lebih cepat. Jika buku yang dibaca tidak sesuai minat, akan sulit tersambung dengan pikiran, ketertarikan lenyap, kamu menunda-nunda menyelesaikan bukumu, dan akan berakibat target menjadi molor. Langkah ini sangat efektif untukku. Aku selalu mulai dari buku-buku dengan genre yang kusuka dan kemudian berganti ke genre lainnya agar tidak bosan dan menimbulkan kejenuhan membaca. 

5. Memasang Target Khusus untuk Bacaan Genre Lain yang Sulit Ditaklukkan

Oke, mungkin kamu akan bingung membaca maksud sub judul ini. Jadi, begini. Aku selalu suka novel fiksi daripada buku-buku non fiksi. Tapi tidak dipungkiri, aku ingin bacaan buku fiksi dan non fiksi seimbang. Akhirnya aku menerapkan tips yang hampir serupa dengan target bacaan bulanan. Langkah yang kutempuh akhirnya adalah setidaknya aku harus membaca 2 buku non fiksi dalam sebulan. Karena buku-buku non fiksi bagiku agak membosankan walau sarat informasi dan aku harus membacanya, mau tidak mau aku harus mengatur target bulanan. Bayangkan berapa banyak jika kamu bisa konsisten membaca non fiksi 2 buku setiap bulan selama setahun. 24 buku. Sebuah pencapaian bukan untuk tipikal orang yang sedang berusaha menjajal genre baru. 

Tips ini bisa kamu coba jika kamu mungkin juga memiliki genre tertentu yang ingin ditaklukkan.  Walaupun ini tentunya tidak bisa dipaksakan. Kamu tidak harus melakukan hal seperti ini jika tidak mau. Sesuaikan lagi dengan preferensimu.

6. Mengikuti Akun Sesama Pembaca dan Penerbit

Aku perhatikan minat membaca aku meningkat ketika aku mulai mengikuti akun-akun penerbit seperti Penerbit Haru, Fiksi GPU, dan akun Booktuber. Mungkin kata lainnya dari ini adalah keracunan, ya, seperti istilah yang dipakai untuk makeup dan skincare. Semakin sering kita mantengin akun-akun beauty dan skincare enthusiast, perasaan untuk selalu ingin ikut mencoba karena FOMO juga menghinggapi. Itulah alasan aku mulai unfollow banyak akun tersebut di tahun 2018. Menurutku kamu cukup punya skincare atau skincare yang essential saja kalau hanya rakyat jelata biasa. Temukan salah satu yang cocok dengan kulitmu. Habiskan skincare atau makeup sebelum membeli baru lagi. Lagipula kita hanya punya satu wajah. Tapi ini hanya pendapatku saja. Aku bisa bilang seperti itu karena pernah berada di posisi mudah keracunan semua skincare atau makeup baru yang terlihat menarik dan tanpa pikir panjang langsung membelinya.

Tapi untuk buku? Hm, aku rasa kalau kita memang suka buku dan ingin terjun menyelami dunia perbukuan, langkah ini tidak salah. Apalagi sekarang banyak aplikasi membaca online gratis seperti iPusnas, beli buku di Kindle murah meriah dan tak jarang banyak diskon bahkan gratis, hingga langganan Gramedia Digital jika kamu tipe pembaca cepat dan memasang target dalam membaca. Akses membaca buku sekarang jauh lebih mudah.

7. Membaca Cepat

Ini adalah trik kotor yang kulakukan agar bisa membaca banyak buku dalam waktu cepat. Aku menggunakan teknik membaca scanning. Setiap halaman aku baca dalam hitungan detik saja. Tapi ini tidak selalu aku lakukan. Aku cenderung menggunakan teknik ini menjelang akhir bacaan buku. Aku masih tetap membaca kata per kata, mengagumi rangkaian kalimat yang diuntai penulis, menikmatinya perlahan-lahan, dan mempelajari teknik penulisan tiap penulis.

Sejatinya membaca buku menurutku menjadi salah satu proses menikmati karya seni. Kita tidak perlu terlalu terburu-buru. Kita tidak perlu merasa tertinggal jika ada orang lain membaca lebih cepat atau lebih banyak. Layaknya kesuksesan dan pencapaian, setiap orang punya waktu dan kecepatannya masing-masing. Membaca buku tidak dinilai dari seberapa banyak buku yang dibaca atau seberapa tebal halaman yang sanggup dibaca. Kita bisa menyesap tiap kata dan memaknainya untuk diri kita sendiri saja sudah cukup. 

Membaca banyak buku di sini baiknya kita maknai sebagai sebuah tantangan pada diri sendiri untuk selalu haus membaca buku yang jumlahnya sangat banyak. Aku setuju dengan salah satu Booktuber yang kutonton kemarin. Dia berkata tujuan awal adanya challenge ini adalah bukan untuk berlomba-lomba membaca buku dan menjadi orang yang paling banyak membaca buku, tapi lebih ke berlomba dengan diri sendiri untuk menjadi motivasi membaca lebih banyak buku karena jumlah buku ada miliaran di dunia ini. Rasanya akan disayangkan jika waktu yang ada hanya digunakan untuk membaca sedikit buku.

Nah, itu tadi merupakan beberapa tips dariku yang mungkin cocok dengan preferensimu. Kamu punya tips juga agar bisa membaca banyak buku? Ceritain, dong, di kolom komentar. 

Comments

Popular posts from this blog

PENGALAMAN REKRUTMEN ODP IT BANK MANDIRI

Sumber: Google Di postingan kali ini aku mau berbagi cerita pengalamanku tentang proses rekrutmen ODP IT Bank Mandiri. Kenapa aku tulis? Salah satunya adalah karena masih minimnya cerita gimana sih pengalaman rekrutmen ODP Bank Mandiri khususnya untuk bidang IT. Kalau pengalaman rekrutmen untuk ODP General Bank Mandiri udah banyak kutemuin waktu aku sendiri sedang di fase proses rekrutmen sedangkan untuk proses rekrutmen ODP IT Bank Mandiri, aku ubek-ubek internet baru nemu 1 blog doang yang ceritain tentang pengalamannya waktu ikut seleksi rekrutmen ODP IT Bank Mandiri. Nah, tujuan aku berbagi pengalaman ini gak lain gak bukan adalah sekadar sharing dan memberi gambaran tentang apa aja kira-kira prosesnya dan gimana aja prosesnya.  Sebelumnya perlu juga diketahui apa sebenarnya yang memotivasiku untuk coba daftar di ODP IT Bank Mandiri ini. Jadi, awalnya aku sempat buka Linkedin dan lihat ada salah satu teman seangkatan yang udah kerja sebagai ODP IT Bank Mandiri. Dari situ aku ...

REVIEW E-READER ONYX BOOX NOVA 2 BAHASA INDONESIA

Sumber: Foto Pribadi Hai! Apa kamu suka banget membaca? Suka membaca buku digital dan sedang mencari-cari e-reader yang cocok? Jika iya, coba baca pengalamanku menjajal e-reader dari Onyx Boox Nova 2 yang kubeli beberapa hari lalu ini. Banyak dari kita yang awalnya pasti kebingungan hendak membeli e-reader dari Kindle yang sudah terkenal itu atau e-reader lain. Atau bahkan masih ada yang belum tahu e-reader apa saja yang saat ini telah beredar di pasaran? Well , yang kutahu hingga saat ini ada  e-reader dari Kindle, Kobo, dan Onyx Boox. Mungkin bagi yang sudah mengetahui e-reader lainnya yang tidak kalah bagus bisa bantu share dan ceritakan pengalaman membaca melalui perangkat tersebut   di kolom komentar.  Awal cerita bagaimana aku akhirnya memutuskan membeli Onyx Boox ini bisa dibilang agak panjang. For the longest time aku selalu merasa Kindle adalah e-reader terbaik sejak aku mengetahuinya waktu kuliah namun Kindle belum memenuhi preferensi yang kubutuhkan. Apa s...

KOS CERIA

Hari ini aku akan menceritakan sebuah kisah yang kudengar dari selentingan penduduk sekitar Kota G. Ini adalah kisah yang terjadi di sebuah indekos bernama Kos Ceria. Namanya saja yang ceria. Di dalamnya tidak ada keceriaan setitik pun. Menurut survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan properti, kira-kira ada sekitar 47,4% generasi milenial memilih untuk tinggal di indekos. Pelajar yang telah lulus sekolah menengah atas dan melanjutkan pendidikan ke universitas akan banyak memilih tinggal di indekos. Pekerja-pekerja yang mengadu nasib ke kota metropolitan juga banyak memilih tinggal di indekos, apartemen, atau mess. Kota G adalah area urban yang menjadi destinasi pencari kerja. Dalam beberapa waktu terakhir, Kota G telah berkembang pesat. Perlahan-lahan reputasi Kota G merangkak masuk ke lima besar destinasi kota yang memiliki banyak ladang pekerjaan. Pada era perang dan penjajahan, Kota G adalah daerah yang santer dikenal sebagai kota penyekapan, pembuangan, dan pembantaian. Suasan...