Sumber: Unsplash
Sembari aku menulis postingan ini, aku masih berjuang untuk keluar dari fase reading slump. Untuk para bookish, reading slump itu mimpi terburuk dari mimpi-mimpi buruk.
Sejak aku mulai menekuni hobi membaca lagi di tahun 2021, beberapa kali aku mengalami reading slump. Keadaan ini tidak dapat dihindari. Biasanya apa saja, sih, yang bisa menyebabkan reading slump? Menurut versiku, yang terjadi adalah karena:
Burnout
Mungkin aku memang cari penyakit karena menetapkan target yang nyaris
mustahil. Meskipun awalnya iseng saja, seperti, oh, coba jika aku memberikan
usaha terbaikku, berapa banyak buku yang bisa kuselesaikan? Awalnya memang
terasa menyenangkan. Diriku merasa tertantang. Rasanya tidak ada yang bisa
menghentikanku untuk terus membaca. Aku membaca kapan pun ketika ada sedikit
saja waktu luang. Otakku terus membaca seakan-akan jika aku melewatkan waktu
tanpa membaca bisa membuatku menjadi orang yang paling tertinggal.
Tumpukan to be read masih menggunung dan kecepatan membacaku
tidak menjadi semakin cepat. Ternyata ini malah membuat kondisi otakku
menjadi burnout dan kewalahan. Sampai pada taraf tertentu,
akhirnya otakku mencapai titik mental exhaustion.
Mental Exhaustion
Terlalu banyak cerita, terutama cerita thriller membuat
otakku merasa terlalu banyak informasi yang masuk. Ibarat kata air yang dituang
ke dalam ember, airnya sudah luber sampai tumpah ke mana-mana. Otak dipaksa
kerja terus untuk membaca dan membaca hingga menjadi lelah.
Overstimulation
Karena otakku telah terbiasa dengan ritme membaca yang intens sehingga menyebabkan kelelahan, maka pada akhirnya otakku berteriak untuk slow down. Salah satu tanda bahwa otak butuh istirahat adalah rasa jenuh yang tiba-tiba muncul. Buku thriller yang biasanya membuat mataku berbinar-binar tiba-tiba kehilangan spark-nya.
Kalau sudah reading slump seperti ini, rasanya seperti mini neraka. Oke,
mungkin berlebihan, tapi itulah yang kurasakan. Aku hanya bisa menatap nanar
tumpukan buku fisik dan digitalku. Betapa pun aku ingin melahap mereka, mataku
dan otakku langsung menolak begitu saja.
Kegiatan membaca pun menjadi jalan buntu. Meskipun aku ingin mengenyahkan
penyakit reading slump ini secepat mungkin, aku sadar bahwa sebenarnya
yang dibutuhkan otakku adalah istirahat. Sehingga inilah yang kulakukan
untuk:
Melalui Reading Slump, aku....
Tidak Memaksakan Diri
Semakin aku memaksakan diri, otakku akan semakin berteriak dan menolak
untuk melakukan hal yang kuinginkan. Jadi mau tidak mau akhirnya aku menuruti apa
yang diinginkan tubuh dan otakku. Aku istirahat baca.
Lakukan Aktivitas Lain
Karena aktivitas membaca tidak bisa kulakukan untuk sementara waktu, aku
pun menjajal aktivitas lain untuk mengisi waktu luang dan memberi asupan untuk
otakku. Aku menonton film, menyusuri Youtube, mengikuti Masterchef Season 12,
dan aku juga memasak. Selingan aktivitas ini memberikan kesegaran tersendiri—membuat
otakku beristirahat dari rutinitas yang monoton.
Baca Genre Lain
Namun aku masih tidak bisa mengenyahkan pikiran bahwa aku setidaknya harus
membaca, meskipun dengan kecepatan siput sekalipun. Aku mulai membaca buku non
fiksi—karena jika ditelisik lagi, selama bulan Desember sampai Januari, mayoritas
bacaanku nyaris thriller fiction. Membaca genre lain memberikan
nuansa berbeda yang memberikan udara segar untuk otakku.
Baca Buku Tipis
Buku-buku non fiksi pilihanku jatuh ke buku This is Me Letting You Go oleh
Heidi Priebe dan How to Let Things Go oleh Shunmyo Masuno (belum selesai
dibaca). Kedua buku ini cukup ringan dan tipis. Tiap babnya pun cukup pendek. Penyakit
reading slump seperti ini baiknya diatasi pelan-pelan seperti baby step.
Itu dia caraku untuk keluar dari fase reading slump. Aku menuliskan
draft ini di pertengahan Februari dan menyelesaikannya di awal Maret. Perubahan
yang terjadi cukup signifikan. Begitu hari menginjak bulan Maret, aku sudah 80%
sembuh dari penyakit reading slump dan siap mengikuti challenge
Ngabuburead yang diadakan oleh Gramedia (hihihi, tetap ya, ikut challenge).
Aku berhasil menamatkan satu novel thriller. Ini menandakan otakku sudah
bisa menerima stimulus bacaan thriller. Namun karena kondisi ini masih
cukup rapuh, aku tidak akan memaksakan keadaan. Jika memang sebuah buku tidak
bisa selesai dalam sehari, aku tidak mempermasalahkannya lagi.
Comments
Post a Comment